Coba kaIian sebutkan binatang yang berkembang biak secara bertelur! Ada ayam, ular, burung, kupu-kupu, nyamuk, katak, dan sebagainya. Pernahkah kamu melihat telur ayam atau telur ular menetas? Anak ayam dan anak ular yang menetas memiliki bentuk tubuh yang mirip dengan induknya.
Bagaimana dengan kupu-kupu, nyamuk, dan katak? Anak kupu-kupu, nyamuk, dan katak memiliki bentuk tubuh yang berbeda dengan induknya. Anak kupu-kupu berupa seekor ulat, anak nyamuk berupa jentik-jentik, dan anak katak yang baru menetas berupa kecebong.
Anak kupu-kupu, nyamuk, dan katak akan memiliki bentuk yang sama dengan induknya setelah mengalami proses perubahan bentuk. Proses perubahan bentuk pada hewan tersebut dinamakan metamorfosis.
Dalam pertumbuhan hewan terdapat dua macam metamorfosis, yaitu rnetamorfosis sempurna dan metamorfosis tidak sempurna. Metamorfosis sempurna pada serangga, seperti kupu-kupu, nyamuk, dan lalat selalu melalui tahap kepompong (pupa), sedangkan metamorfosis tidak sempurna, misalnya belalang dan capung, tidak melaiui tahap kepompong. Selain itu, pada metamorfosis sempurna bentuk hewan yang baru menetas jauh berbeda dengan induknya, sedangkan pada metamorfosis tidak sempurna bentuk hewan saat menetas mirip dengan induknya.
Daur Hidup Kupu-Kupu
Pernahkah kamu menemukan ulat berwarna hijau pada daun jeruk? Pernah pulakah kamu meiihat dua kupu-kupu beterbangan di sekitar pohon jeruk itu? Kupu-kupu yang satu berwarna hitam mengkilat, sedangkan kupu-kupu yang satunya berwarna hitam dan putih. Wujud, warna, dan makanan ulat itu sama sekali berbeda dengan kupu-kupu itu. Percayakah kamu, bahwa ulat tadi akan berubah menjadi kupu-kupu? Kamu baru mau percaya bila kamu melihat buktinya sendiri!
Kehidupan kupu-kupu dimulai dari telur, kemudian menetas menjadi ulat, lalu menjadi kepompong, akhirnya menjadi kupu-kupu. Selanjutnya kupu-kupu bertelur lagi. Tahapan-tahapan yang dilalui oleh makhluk hidup secara berkesinambungan di atas disebut daur hidup. Dalam daur hidup kupu-kupu terjadi perubahan-perubahan bentuk atau metamorfosis.
Showing posts with label biologi. Show all posts
Showing posts with label biologi. Show all posts
Tuesday, March 22, 2016
Monday, March 21, 2016
Saling Ketergantungan Antarmakhluk Hidup
Beberapa contoh ketergantungan antarmakhluk hidup adalah sebagai berikut.
1. Antara cacing tanah dan tumbuhan juga terjadi saling kerja sama. Cacing tanah membuat lubang atau liang di dalam tanah sehingga udara dapat masuk ke rongga-rongga tanah. Kotoran cacing pun akan menjadi humus yang diperlukan bagi tumbuhan. Sementara itu, cacing tanah memerlukan tumbuhan tersebut (daun-daun yang berjatuhan dan membusuk) sebagai makanannya.
2. Ada jenis burung tertentu yang biasa memangsa ulat di pohon. Burung ini membantu tumbuhan tersebut karena daunnya tidak menjadi santapan ulat. Populasi hewan pemangsa dan yang dimangsa harus seimbang. Jika populasi burung pemangsa berkurang, berarti ulat makin banyak dan daun tumbuhan akan menjadi mangsa ulat. Dengan demikian, secara tidak langsung tumbuhan bergantung pada burung pemangsa ulat.
3. Ada jenis hewan yang memangsa hewan lain. Peristiwa memangsa dan dimangsa ini justru akan menguntungkan tumbuhan. Contoh peristiwa tersebut adalah berikut ini.
Makanan tikus di sawah adalah padi. Makin banyak populasi tikus di sawah, maka makin banyak padi yang dimakan tikus. Akan tetapi, ada hewan yang biasa memangsa tikus yaitu ular sawah. Ular sawah dapat mengurangi hama tikus. Oleh karena itu, perlu diciptakan keseimbangan populasi antara tikus dan ular sawah. Makin banyak ular sawah, makin sedikit populasi tikus. Hal ini berarti makin berkurang hama padinya.
Selain ketergantungan manusia terhadap tumbuhan, berikut ini diberikan beberapa contoh ketergantungan manusia terhadap hewan.
1. Banyak petani yang menggunakan tenaga kerbau atau sapi untuk membajak tanah.
2. Pada zaman modern sekalipun, ketergantungan manusia kepada anjing masih kuat. Anjing tertentu dapat membantu manusia dalam melacak tindak kejahatan atau mencari korban akibat bencana alam. Selain itu, anjing juga digunakan untuk menjaga keamanan di rumah.
3. Orang Australia dan Selandia Baru memelihara domba untuk diambil bulunya sebagai bahan pembuatan kain wol.
4. Manusia mempunyai ketergantungan terhadap hewan dalam bidang komersial. Ada jenis hewan-hewan tertentu yang dapat dilatih melakukan tugas tertentu dengan tujuan akhir untuk dipertunjukkan kepada masyarakat sebagai hiburan, misalnya gajah, kuda, lumba-lumba. dan anjing laut.
1. Antara cacing tanah dan tumbuhan juga terjadi saling kerja sama. Cacing tanah membuat lubang atau liang di dalam tanah sehingga udara dapat masuk ke rongga-rongga tanah. Kotoran cacing pun akan menjadi humus yang diperlukan bagi tumbuhan. Sementara itu, cacing tanah memerlukan tumbuhan tersebut (daun-daun yang berjatuhan dan membusuk) sebagai makanannya.
2. Ada jenis burung tertentu yang biasa memangsa ulat di pohon. Burung ini membantu tumbuhan tersebut karena daunnya tidak menjadi santapan ulat. Populasi hewan pemangsa dan yang dimangsa harus seimbang. Jika populasi burung pemangsa berkurang, berarti ulat makin banyak dan daun tumbuhan akan menjadi mangsa ulat. Dengan demikian, secara tidak langsung tumbuhan bergantung pada burung pemangsa ulat.
3. Ada jenis hewan yang memangsa hewan lain. Peristiwa memangsa dan dimangsa ini justru akan menguntungkan tumbuhan. Contoh peristiwa tersebut adalah berikut ini.
Makanan tikus di sawah adalah padi. Makin banyak populasi tikus di sawah, maka makin banyak padi yang dimakan tikus. Akan tetapi, ada hewan yang biasa memangsa tikus yaitu ular sawah. Ular sawah dapat mengurangi hama tikus. Oleh karena itu, perlu diciptakan keseimbangan populasi antara tikus dan ular sawah. Makin banyak ular sawah, makin sedikit populasi tikus. Hal ini berarti makin berkurang hama padinya.
Selain ketergantungan manusia terhadap tumbuhan, berikut ini diberikan beberapa contoh ketergantungan manusia terhadap hewan.
1. Banyak petani yang menggunakan tenaga kerbau atau sapi untuk membajak tanah.
2. Pada zaman modern sekalipun, ketergantungan manusia kepada anjing masih kuat. Anjing tertentu dapat membantu manusia dalam melacak tindak kejahatan atau mencari korban akibat bencana alam. Selain itu, anjing juga digunakan untuk menjaga keamanan di rumah.
3. Orang Australia dan Selandia Baru memelihara domba untuk diambil bulunya sebagai bahan pembuatan kain wol.
4. Manusia mempunyai ketergantungan terhadap hewan dalam bidang komersial. Ada jenis hewan-hewan tertentu yang dapat dilatih melakukan tugas tertentu dengan tujuan akhir untuk dipertunjukkan kepada masyarakat sebagai hiburan, misalnya gajah, kuda, lumba-lumba. dan anjing laut.
Saling ketergantungan antara hewan dengan tumbuhan
Kita sering melihat kupu-kupu hinggap di bunga-bunga, kambing atau biri-biri sering berkeliaran di padang rumput. Di sawah, sering pula kita melihat katak, ular, ikan, dan tikus. Apakah hewan-hewan itu saling berhubungan erat? Apa yang terjadi jika padang-padang rumput yang ada di permukaan bumi ini lenyap?
Apabila kita perhatikan kehidupan sapi dan kambing, ternyata kedua hewan itu sangat bergantung pada tumbuhan, khususnya rumput. Itulah sebabnya kita tidak pernah melihat peternakan sapi di tempat yang tidak ada rumputnya, bukan?
Kambing memakan pucuk-pucuk tumbuhan sebagai makanannya, sedangkan pucuk-pucuk tumbuhan yang dimakan kambing akan memacu terjadinya pertumbuhan pada tanaman tersebut sehingga tumbuhan cepat menjadi tinggi dan besar.
Di dalam tanah, cacing bersama daun dan ranting busuk berguna untuk menggemburkan dan menyuburkan tanah. Daun dan ranting busuk ini berasal dari daun dan ranting yang jatuh dan tertimbun tanah. Daun dan ranting busuk itu menjadi makanan kegemaran cacing.
Jika kita mengamati cara makhluk hidup di sekitar kita dalam mencari makanan, sebenarnya terjadi perputaran antara pemakan dan yang dimakan.
Awalnya adalah tumbuhan sebagai produsen karena hanya tumbuhanlah yang dapat membuat makanan sendiri. Manusia dan hewan hanya mendapatkan makanan yang telah tersedia. Manusia hanya dapat mengolah bahan yang telah ada, misalnya manusia memakan nasi yang berasal dari padi. Dapatkah manusia membuat padi? Manusia makan roti dari gandum. Dapatkah manusia membuat gandum? Tikus makan padi. Dapatkah tikus membuat padi? Jadi, manusia dan hewan dalam proses ini disebut konsumen.
Dalam sebuah ekosistem terdapat komponen biotik seperti manusia, ikan, tumbuhan, ayam dan lain-lain, serta komponen abiotik seperti batu, air, oksigen, dan karbondioksida.
Dalam suatu ekosistem, betapapun kecilnya ekosistem itu, peranan matahari tidak dapat diabaikan sebab matahari merupakan sumber penghidupan bagi makhluk hidup.
Pada sebuah ekosistem terdapat banyak komponen. Komponen-komponen ekosistem itu, sebagai berikut.
1. Produsen
Semua tumbuhan hijau adalah produsen dalam sebuah ekosistem. Produsen artinya penghasil, yaitu menghasilkan bahan-bahan organik bagi makhluk hidup lainnya. Contoh produsen, antara lain, padi, ubi, singkong, sagu, jagung, jambu, jeruk, dan tomat.
2. Konsumen
Konsumen adalah pemakai bahan organik yang dihasilkan oleh produsen. Ada beberapa tingkatan konsumen menurut apa yang dimakannya, yaitu sebagai berikut.
a. Konsumen Tingkat I
Konsumen tingkat I disebut herbivora, yaitu hewan pernakan tumbuhan. Contohnya kambing, kuda, sapi, dan gajah.
b. Konsumen Tingkat II
Konsumen tingkat II disebut karnivora, yaitu hewan pemakan daging. Contohnya harimau, serigala, kucing hutan, dan elang.
c. Konsumen Tinqkat III
Konsumen tingkat III disebut omnivora, yaitu hewan pemakan daging dan tumbuhan. Contohnya kera siamang, orangutan, dan mawas.
Di lautan yang menjadi produsen adalah fitoplankton, yaitu sekumpulan tumbuhan hijau yang sangat kecil ukurannya dan melayang-layang dalam air. Konsumen I adalah zooplankton (hewan pemakan fitoplankton), sedangkan konsumen II-nya adalah karnivora kecil, konsumen III-nya ikan-ikan kecil, konsumen IV-nya ikan-ikan sedang, dan konsumen V-nya ikan-ikan besar.
3. Pengurai
Pengurai adaiah makhluk hidup yang menguraikan kembali zat-zat yang semula terdapat dalam tubuh hewan dan tumouhan yang telah mati. Hasil kerja pengurai dapat membantu proses penyuburan tanah. Contoh pengurai adalah bakteri dan jamur.
4. Komponen Abiotik
Komponen abiotik adalah tempat tanaman hijau (produsen) tumbuh. Kesuburan lingkungan abiotik ditentukan oleh kerja pengurai.
Apabila kita perhatikan kehidupan sapi dan kambing, ternyata kedua hewan itu sangat bergantung pada tumbuhan, khususnya rumput. Itulah sebabnya kita tidak pernah melihat peternakan sapi di tempat yang tidak ada rumputnya, bukan?
Kambing memakan pucuk-pucuk tumbuhan sebagai makanannya, sedangkan pucuk-pucuk tumbuhan yang dimakan kambing akan memacu terjadinya pertumbuhan pada tanaman tersebut sehingga tumbuhan cepat menjadi tinggi dan besar.
Di dalam tanah, cacing bersama daun dan ranting busuk berguna untuk menggemburkan dan menyuburkan tanah. Daun dan ranting busuk ini berasal dari daun dan ranting yang jatuh dan tertimbun tanah. Daun dan ranting busuk itu menjadi makanan kegemaran cacing.
Jika kita mengamati cara makhluk hidup di sekitar kita dalam mencari makanan, sebenarnya terjadi perputaran antara pemakan dan yang dimakan.
Awalnya adalah tumbuhan sebagai produsen karena hanya tumbuhanlah yang dapat membuat makanan sendiri. Manusia dan hewan hanya mendapatkan makanan yang telah tersedia. Manusia hanya dapat mengolah bahan yang telah ada, misalnya manusia memakan nasi yang berasal dari padi. Dapatkah manusia membuat padi? Manusia makan roti dari gandum. Dapatkah manusia membuat gandum? Tikus makan padi. Dapatkah tikus membuat padi? Jadi, manusia dan hewan dalam proses ini disebut konsumen.
Dalam sebuah ekosistem terdapat komponen biotik seperti manusia, ikan, tumbuhan, ayam dan lain-lain, serta komponen abiotik seperti batu, air, oksigen, dan karbondioksida.
Dalam suatu ekosistem, betapapun kecilnya ekosistem itu, peranan matahari tidak dapat diabaikan sebab matahari merupakan sumber penghidupan bagi makhluk hidup.
Pada sebuah ekosistem terdapat banyak komponen. Komponen-komponen ekosistem itu, sebagai berikut.
1. Produsen
Semua tumbuhan hijau adalah produsen dalam sebuah ekosistem. Produsen artinya penghasil, yaitu menghasilkan bahan-bahan organik bagi makhluk hidup lainnya. Contoh produsen, antara lain, padi, ubi, singkong, sagu, jagung, jambu, jeruk, dan tomat.
2. Konsumen
Konsumen adalah pemakai bahan organik yang dihasilkan oleh produsen. Ada beberapa tingkatan konsumen menurut apa yang dimakannya, yaitu sebagai berikut.
a. Konsumen Tingkat I
Konsumen tingkat I disebut herbivora, yaitu hewan pernakan tumbuhan. Contohnya kambing, kuda, sapi, dan gajah.
b. Konsumen Tingkat II
Konsumen tingkat II disebut karnivora, yaitu hewan pemakan daging. Contohnya harimau, serigala, kucing hutan, dan elang.
c. Konsumen Tinqkat III
Konsumen tingkat III disebut omnivora, yaitu hewan pemakan daging dan tumbuhan. Contohnya kera siamang, orangutan, dan mawas.
Di lautan yang menjadi produsen adalah fitoplankton, yaitu sekumpulan tumbuhan hijau yang sangat kecil ukurannya dan melayang-layang dalam air. Konsumen I adalah zooplankton (hewan pemakan fitoplankton), sedangkan konsumen II-nya adalah karnivora kecil, konsumen III-nya ikan-ikan kecil, konsumen IV-nya ikan-ikan sedang, dan konsumen V-nya ikan-ikan besar.
3. Pengurai
Pengurai adaiah makhluk hidup yang menguraikan kembali zat-zat yang semula terdapat dalam tubuh hewan dan tumouhan yang telah mati. Hasil kerja pengurai dapat membantu proses penyuburan tanah. Contoh pengurai adalah bakteri dan jamur.
4. Komponen Abiotik
Komponen abiotik adalah tempat tanaman hijau (produsen) tumbuh. Kesuburan lingkungan abiotik ditentukan oleh kerja pengurai.
Rantai makanan yang terbentuk antara hewan dengan tumbuhan
Apakah yang dimaksud rantai makanan itu? Rantai makanan adalah perjalanan makan dan dimakan dengan urutan tertentu antarmakhluk hidup. Padi dimakan oleh tikus, kemudian tikus dimakan oleh ular, ular dimakan oleh seekor burung elang. Setelah itu beberapa waktu kemudian burung elang mati, lalu bangkainya membusuk dan bercampur dengan tanah yang mengandung humus. Humus merupakan hal yang dibutuhkan tumbuhan, terutama rumput. Begitulah seterusnya sehingga proses ini berjalan dari waktu ke waktu.
Urutan peristiwa makan dan dimakan di atas dapat berjalan seimbang dan lancar bila seluruh komponen ada. Bila salah satu komponen itu tidak ada, maka terjadilah ketimpangan dalam urutan makan dan dimakan tersebut.
Perjalanan makan dan dimakan dari produsen sampai ke konsumen terakhir tersebut dapat kita gambarkan sebagai sebuah piramida.
Agar rantai makanan dapat terus berjalan, maka jumlah produsen harus lebih banyak dibandingkan jumlah konsumen. Mengapa demikian? Kita ambil contoh rantai makanan di bawah ini.
Padi ---> Tikus ---> Ular --> Burung Elang
Bila padi sedikit, maka tikus-tikus akan berebut makanan. Bila hal ini terus berlangsung, maka akan terjadi saling bunuh di antara tikus-tikus untuk mendapatkan makanan tersebut. lni berlaku juga untuk ular dan burung elang. Jadi, produsen harus lebih banyak daripada pihak konsumen kesatu, konsumen kesatu harus lebih banyak daripada konsumen kedua, dan begitulah seterusnya. Bila hal ini tetap berlangsung, maka akan terjadi keseimbangan.
Urutan peristiwa makan dan dimakan di atas dapat berjalan seimbang dan lancar bila seluruh komponen ada. Bila salah satu komponen itu tidak ada, maka terjadilah ketimpangan dalam urutan makan dan dimakan tersebut.
Perjalanan makan dan dimakan dari produsen sampai ke konsumen terakhir tersebut dapat kita gambarkan sebagai sebuah piramida.
Agar rantai makanan dapat terus berjalan, maka jumlah produsen harus lebih banyak dibandingkan jumlah konsumen. Mengapa demikian? Kita ambil contoh rantai makanan di bawah ini.
Padi ---> Tikus ---> Ular --> Burung Elang
Bila padi sedikit, maka tikus-tikus akan berebut makanan. Bila hal ini terus berlangsung, maka akan terjadi saling bunuh di antara tikus-tikus untuk mendapatkan makanan tersebut. lni berlaku juga untuk ular dan burung elang. Jadi, produsen harus lebih banyak daripada pihak konsumen kesatu, konsumen kesatu harus lebih banyak daripada konsumen kedua, dan begitulah seterusnya. Bila hal ini tetap berlangsung, maka akan terjadi keseimbangan.
Manfaat atau Kerugian yang Terjadi Akibat Hubungan Khusus Antarmakhluk Hidup
Hubungan yang terjadi antarmakhluk hidup itu tidak selamanya menguntungkan. Ada beberapa hubungan yang menghasilkan keuntungan dan kerugian. Untuk hal itu, dikenal ada tiga macam tumbuhan, yaitu tumbuhan parasit, tumbuhan epifit, dan tumbuhan saprofit.
1. Tumbuhan Parasit
Contoh tumbuhan parasit adalah pasilan dan kemladean. Mengapa disebut tumbuhan parasit? Karena turnbuhan ini hidupnya menumpang pada tumbuhan lain. Tumbuhan parasit yang menumpang itu mengambil makanan dari tumbuhan yang ditumpanginya.Tumbuhan yang ditumpangi ini disebut tumbuhan inang. Makanan tumbuhan inang yang diambil terus-menerus oleh tumbuhan parasit ini akhirnya jumlahnya terus berkurang. Akibatnya tumbuhan inang akan kekurangan makanan dan akhirnya mati. Jadi, tumbuhan parasit tergolong tumbuhan yang merugikan.
2. Tumbuhan Epifit
Tumbuhan epifit adalah tumbuhan yang hidup pada tumbuhan lain, tetapi ia mencari makan sendiri. Jadi, tumbuhan ini hanya hidup pada tumbuhan lain (menumpang) tetapi tidak mengambil makanannya. Contohnya tumbuhan paku dan anggrek. Beberapa ahli tumbuhan mengatakan, meskipun tumbuhan epifit tidak mengambil makanan dari tumbuhan yang ditumpanginya. tetapi ia tetap merugikan walaupun sedikit. Mengapa demikian? Sebab keberadaannya yang agak besar dan lebar dapat menghalangi sinar matahari yang masuk atau diserap tumbuhan inangnya itu. Tumbuhan epifit sering juga disebut tumbuhan parasit ruangan.
3. Tumbuhan Saprofit
Tumbuhan saprofit disebut juga tumbuhan jamur. Contohnya jamur tempel, jamur padi, dan jamur kuping.
Tumbuhan jamur tumbuh pada sisi-sisi tumbuhan yang telah mati, misalnya pada pangkal kayu. Tumbuhan yang telah mati itu kemudian membusuk, setelah itu tumbuhlah jamur di sana. Pernahkah kamu melihatnya? Bagaimana bentuknya? Untuk saat ini sudah ada pengembangan budi daya jamur. Manusia mengelola dan mengembangkan budi daya jamur tersebut untuk bahan konsumsi (makanan). Contohnya jamur kancing, jamur merang, jamur kuping.
1. Tumbuhan Parasit
Contoh tumbuhan parasit adalah pasilan dan kemladean. Mengapa disebut tumbuhan parasit? Karena turnbuhan ini hidupnya menumpang pada tumbuhan lain. Tumbuhan parasit yang menumpang itu mengambil makanan dari tumbuhan yang ditumpanginya.Tumbuhan yang ditumpangi ini disebut tumbuhan inang. Makanan tumbuhan inang yang diambil terus-menerus oleh tumbuhan parasit ini akhirnya jumlahnya terus berkurang. Akibatnya tumbuhan inang akan kekurangan makanan dan akhirnya mati. Jadi, tumbuhan parasit tergolong tumbuhan yang merugikan.
2. Tumbuhan Epifit
Tumbuhan epifit adalah tumbuhan yang hidup pada tumbuhan lain, tetapi ia mencari makan sendiri. Jadi, tumbuhan ini hanya hidup pada tumbuhan lain (menumpang) tetapi tidak mengambil makanannya. Contohnya tumbuhan paku dan anggrek. Beberapa ahli tumbuhan mengatakan, meskipun tumbuhan epifit tidak mengambil makanan dari tumbuhan yang ditumpanginya. tetapi ia tetap merugikan walaupun sedikit. Mengapa demikian? Sebab keberadaannya yang agak besar dan lebar dapat menghalangi sinar matahari yang masuk atau diserap tumbuhan inangnya itu. Tumbuhan epifit sering juga disebut tumbuhan parasit ruangan.
3. Tumbuhan Saprofit
Tumbuhan saprofit disebut juga tumbuhan jamur. Contohnya jamur tempel, jamur padi, dan jamur kuping.
Tumbuhan jamur tumbuh pada sisi-sisi tumbuhan yang telah mati, misalnya pada pangkal kayu. Tumbuhan yang telah mati itu kemudian membusuk, setelah itu tumbuhlah jamur di sana. Pernahkah kamu melihatnya? Bagaimana bentuknya? Untuk saat ini sudah ada pengembangan budi daya jamur. Manusia mengelola dan mengembangkan budi daya jamur tersebut untuk bahan konsumsi (makanan). Contohnya jamur kancing, jamur merang, jamur kuping.
Hubungan Khusus Antarmakhluk Hidup
Dari beberapa hubungan makhluk hidup, dikenal hubungan yang bersifat khas. Hubungan khas antarmakhluk hidup itu dikenal dengan istilah simbiosis. Simbiosis atau hubungan khas antarmakhluk hidup itu dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Simbiosis Mutualisme
Simbiosis mutualisme adalah hubungan dua makhluk hidup yang saling menguntungkan. Contohnya simbiosis seekor kerbau dengan burung jalak. Kerbau mengalami keuntungan dengan habisnya kutu-kutu yang menempel di badannya karena dimakan oleh burung jalak, sedangkan burung jalak merasa untung karena mendapat makanan untuk dirinya.
2. Simbiosis Parasitisme
Simbiosis parasitisme ialah hubungan dua makhluk hidup yang ditandai makhluk hidup yang satu mendapatkan keuntungan, sedangkan yang lainnya mengalami kerugian. Contohnya hubungan yang terjadi pada pohon jeruk dengan benalu. Benalu merasa untung karena mendapat makanan dari pohon jeruk, sedangkan pohon jeruk dirugikan karena makanannya diambil oleh benalu tersebut.
3. Simbiosis Komensalisme
Adakalanya terjadi juga hubungan yang menguntungkan satu pihak, tetapi tidak menguntungkan atau merugikan pihak lain. Simbiosis seperti ini dinamakan simbiosis komensalisme.
Kamu tentu pernah mendengar nama ikan hiu, bukan? Simbiosis komensalisme jelas terlihat pada ikan hiu dan ikan-ikan remora. Ikan remora yang menempel pada tubuh ikan hiu turut menjelajahi penjuru laut ke mana pun ikan hiu itu pergi. Ikan-lkan kecil itu menjadi aman dari ancaman ikan besar lain karena ikan besar takut pada ikan hiu.
Demikian artikel tentang hubungan khusus antarmakhluk hidup. Semoga memberi manfaat. Terima kasih.
1. Simbiosis Mutualisme
Simbiosis mutualisme adalah hubungan dua makhluk hidup yang saling menguntungkan. Contohnya simbiosis seekor kerbau dengan burung jalak. Kerbau mengalami keuntungan dengan habisnya kutu-kutu yang menempel di badannya karena dimakan oleh burung jalak, sedangkan burung jalak merasa untung karena mendapat makanan untuk dirinya.
2. Simbiosis Parasitisme
Simbiosis parasitisme ialah hubungan dua makhluk hidup yang ditandai makhluk hidup yang satu mendapatkan keuntungan, sedangkan yang lainnya mengalami kerugian. Contohnya hubungan yang terjadi pada pohon jeruk dengan benalu. Benalu merasa untung karena mendapat makanan dari pohon jeruk, sedangkan pohon jeruk dirugikan karena makanannya diambil oleh benalu tersebut.
3. Simbiosis Komensalisme
Adakalanya terjadi juga hubungan yang menguntungkan satu pihak, tetapi tidak menguntungkan atau merugikan pihak lain. Simbiosis seperti ini dinamakan simbiosis komensalisme.
Kamu tentu pernah mendengar nama ikan hiu, bukan? Simbiosis komensalisme jelas terlihat pada ikan hiu dan ikan-ikan remora. Ikan remora yang menempel pada tubuh ikan hiu turut menjelajahi penjuru laut ke mana pun ikan hiu itu pergi. Ikan-lkan kecil itu menjadi aman dari ancaman ikan besar lain karena ikan besar takut pada ikan hiu.
Demikian artikel tentang hubungan khusus antarmakhluk hidup. Semoga memberi manfaat. Terima kasih.
Dampak Perubahan Lingkungan terhadap Makhluk Hidup
Setiap makhluk hidup membutuhkan lingkungan yang sehat sebagai tempat tinggalnya. Ikan di sungai membutuhkan air sungai yang bersih dan tidak tercemar. Harimau, gajah, ular, dan hewan hutan lain membutuhkan lingkungan hutan yang alami, hijau, dan rimbun. Tumbuhan di hutan membutuhkan keadaan lingkungan dengan suhu, sinar matahari, dan hujan yang cukup untuk pertumbuhannya. Lingkungan dapat berubah menjadi buruk karena beberapa hal berikut.
1. Pencemaran Sungai
Pencemaran sungai biasanya disebabkan oleh sampah dan limbah yang dibuang ke sungai. Adanya sampah menyebabkan aliran sungai menjadi tidak lancar. Jika hujan turun, air dalam sungai akan meluap karena alirannya tidak lancar. Hal ini dapat menyebabkan bencana banjir.
Selain itu, sampah yang menggunung juga menyebabkan bau yang tidak sedap. Udara di sekelilingnya menjadi tercemar. Untuk itu, agar lingkungan menjadi bersih dan sehat, hendaknya jangan membuang sampah di sungai dan tingkatkan program kall bersih (prokasih).
Sungai yang tercemar sangatlah tidak sedap dipandang dan menimbulkan bau busuk yang menyengat penciuman kita. Selain itu, sungai yang tercemar merupakan sumber dari berbagai penyakit seperti penyakit kulit dan diare.
2. Kebakaran Hutan
Saat kemarau panjang banyak hutan di Indonesia terbakar. Kebakaran hutan mengancam banyak sekali kehidupan hutan. Pohon-pohon yang terbakar akan kering dan mati. Begitu pula dengan hewan-hewan hutan, mereka akan kehilangan tempat untuk hidup dan mencari makanan. Manusia perlu memelihara dan melestarikan hutan dengan baik karena hutan sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya banjir dan erosi serta sebagai tempat tinggal hewan. Apakah manfaat hutan yang lain?
Sebagai pencegah banjir, hutan akan menyerap air hujan yang turun untuk disimpan dalam tanah. Di tempat-tempat tertentu, air akan keluar sebagai mata air. Jika air hujan jatuh di tanah yang gundul, maka aliran air tidak ada yang menahannya. Akibatnya, bila hujan deras, dapat terjadi banjir.
Untuk menghindari hal-hal tersebut, maka kita tidak diperbolehkan menebang pohon-pohon di hutan secara liar karena dapat mengakibatkan hutan menjadi gundul. Pembakaran hutan juga tidak diperbolehkan karena selain menimbulkan bahaya banjir, asap yang ditimbulkan juga dapat mengganggu manusia, hewan, dan lingkungan sekitarnya.
Asap tersebut dapat mengotori udara sehingga menjadi pengap dan tercemar. Asap juga dapat mengakibatkan penglihatan (mata) dan pernapasan menjadi terganggu.
3. Bencana banjir
Banjir dapat mengakibatkan kerusakan, misalnya pada rumah, harta benda, sekolah, dan berbagai tempat penting lainnya.
Banjir dapat disebabkan oleh meluapnya air sungai, danau, atau laut. Hujan yang sangat deras tanpa diimbangi dengan sistem saluran air (drainase) yang baik juga dapat mengakibatkan banjir. Selain itu, penebangan pohon di hutan yang tidak dapat dikendalikan juga dapat mengakibatkan banjir karena fungsi hutan sebagai tempat resapan air akan terganggu. Ada beberapa cara yang dilakukan untuk menanggulangi bahaya banjir, antara lain:
a. membiasakan untuk bersama-sama membersihkan selokan air agar saluran air menjadi lancar,
b. membiasakan untuk tidak membuang sampah di sungai tetapi di tempat sampah,
c. membuat tanggul di sekitar aliran sungai,
d. penanaman kembali hutan yang gundul (reboisasi), dan sebagainya.
1. Pencemaran Sungai
Pencemaran sungai biasanya disebabkan oleh sampah dan limbah yang dibuang ke sungai. Adanya sampah menyebabkan aliran sungai menjadi tidak lancar. Jika hujan turun, air dalam sungai akan meluap karena alirannya tidak lancar. Hal ini dapat menyebabkan bencana banjir.
Selain itu, sampah yang menggunung juga menyebabkan bau yang tidak sedap. Udara di sekelilingnya menjadi tercemar. Untuk itu, agar lingkungan menjadi bersih dan sehat, hendaknya jangan membuang sampah di sungai dan tingkatkan program kall bersih (prokasih).
Sungai yang tercemar sangatlah tidak sedap dipandang dan menimbulkan bau busuk yang menyengat penciuman kita. Selain itu, sungai yang tercemar merupakan sumber dari berbagai penyakit seperti penyakit kulit dan diare.
2. Kebakaran Hutan
Saat kemarau panjang banyak hutan di Indonesia terbakar. Kebakaran hutan mengancam banyak sekali kehidupan hutan. Pohon-pohon yang terbakar akan kering dan mati. Begitu pula dengan hewan-hewan hutan, mereka akan kehilangan tempat untuk hidup dan mencari makanan. Manusia perlu memelihara dan melestarikan hutan dengan baik karena hutan sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya banjir dan erosi serta sebagai tempat tinggal hewan. Apakah manfaat hutan yang lain?
Sebagai pencegah banjir, hutan akan menyerap air hujan yang turun untuk disimpan dalam tanah. Di tempat-tempat tertentu, air akan keluar sebagai mata air. Jika air hujan jatuh di tanah yang gundul, maka aliran air tidak ada yang menahannya. Akibatnya, bila hujan deras, dapat terjadi banjir.
Untuk menghindari hal-hal tersebut, maka kita tidak diperbolehkan menebang pohon-pohon di hutan secara liar karena dapat mengakibatkan hutan menjadi gundul. Pembakaran hutan juga tidak diperbolehkan karena selain menimbulkan bahaya banjir, asap yang ditimbulkan juga dapat mengganggu manusia, hewan, dan lingkungan sekitarnya.
Asap tersebut dapat mengotori udara sehingga menjadi pengap dan tercemar. Asap juga dapat mengakibatkan penglihatan (mata) dan pernapasan menjadi terganggu.
3. Bencana banjir
Banjir dapat mengakibatkan kerusakan, misalnya pada rumah, harta benda, sekolah, dan berbagai tempat penting lainnya.
Banjir dapat disebabkan oleh meluapnya air sungai, danau, atau laut. Hujan yang sangat deras tanpa diimbangi dengan sistem saluran air (drainase) yang baik juga dapat mengakibatkan banjir. Selain itu, penebangan pohon di hutan yang tidak dapat dikendalikan juga dapat mengakibatkan banjir karena fungsi hutan sebagai tempat resapan air akan terganggu. Ada beberapa cara yang dilakukan untuk menanggulangi bahaya banjir, antara lain:
a. membiasakan untuk bersama-sama membersihkan selokan air agar saluran air menjadi lancar,
b. membiasakan untuk tidak membuang sampah di sungai tetapi di tempat sampah,
c. membuat tanggul di sekitar aliran sungai,
d. penanaman kembali hutan yang gundul (reboisasi), dan sebagainya.
Subscribe to:
Posts (Atom)